Fauzi memastikan, upaya pemerintah untuk mencapai titik keseimbangan baru pada fundamental perekonomian nasional akan secara otomatis menekan angka pertumbuhan ekonomi menjadi di bawah 6 persen. “Supaya tidak membengkakkan current accaount deficit, maka pertumbuhan ekonomi harus di tekan,” katanya.
Dia mengungkapkan, guna menciptakan fundamental perkonomian Indonesia pada titik keseimbangan baru, maka pemerintah tidak bisa menghindar dari upaya menekan angka pertumbuhan ekonomi ke bawah. “Pertumbuhan ekonomi harus ditekan, supaya bisa mencapai equilibrium baru,” ucap Fauzi.
Berdasarkan hasil riset Standard Chartered, kata Fauzi, neraca transaksi berjalan Indonesia baru bisa mencapai surplus sekitar tiga sampai lima tahun ke depan. “Sekarang ini current account deficit USD9,8 miliar. Dan pada akhir tahun ini diperkirakan akan mencapai USD26 miliar. Sedangkan di 2014 menurun menjadi USD20 miliar,” paparnya.
Menurut dia, salah satu alasan utama melebarnya defisit transaksi berjalan karena melebarnya difisit neraca perdagangan. “Ekspor kita terus menurun, sedangkan impor tetap naik,” kata Fauzi sembari menegaskan, pelemahan ekspor dipengaruhi oleh penurunan harga komoditas di pasar global.














