Menurut dia, bank yang pertumbuhan kreditnya diatas 25 persen sudah bagus sekali.
“NIM tinggi itu terjadi karena cost of fundnya rendah dan suku bunga kredit tinggi. Sektor yang kurang kompetitif, bank kasih bunga kredit tinggi, tetapi sektor yang kompetisinya banyak seperti KPR bunganya 8-9 persen dan sektor korporasi suku bunga sudah rendah di kisaran 7,5 persen,” jelas dia.
Tetapi sektor yang kurang kompetitif seperti sektor mikro, bunga kreditnya sekitar 20-30 persen.
“Jadi, tambahnya orang masuk ke kredit mikro. Begitu caranya. Dengan sendirinya menciptakan persaingan yang membuat suku bunga kredit mikro turun,” jelas dia.
Karena itu dia menegaskan agar jangan melihat bank dari NIM.
Bank itu menggenjot laba supaya CAR nya bisa naik.
“Kalau CARnya naik, banknya stabil maka bank bisa memberikan kredit. Tetapi kalau bank nggak punya modal, banknya tidak stabil maka bank tidak akan memberi kredit. Jadi, salah kalau melihat bank dari NIM,” pungkas dia.














