Menko Luhut juga menambahkan bahwa inisiatif ini sejalan dengan target global, dimana terdapat 148 negara yang telah menyerahkan aksi untuk mengurangi emisi CO2 penerbangan kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), mendukung target ambisius mencapai emisi net-zero pada tahun 2050.
Direktur Strategi, Portofolio, dan Pengembangan Usaha di PT Pertamina, Salyadi Saputra, juga menekankan bahwa SAF adalah solusi utama untuk proses dekarbonisasi di sektor penerbangan.
“Permintaan SAF secara global akan terus meningkat, dan Pertamina sudah giat mengeksplorasi feedstock yang dapat diolah untuk dijadikan bahasan dasar SAF. Kami percaya SAF akan memiliki performa baik di pasar global sehingga menjadikannya economically feasible.” jelasnya.
Dari perspektif maskapai penerbangan, Daniel Putut Kuncoro dari Lion Air Group mengangkat kembali peran SAF yang sangat penting dalam proses dekarbonisasi sektor aviasi global.
“Lion Air siap untuk bergerak bersama pemerintah Indonesia untuk menggunakan SAF demi menyanggah proses perubahan iklim dan memajukan lingkungan hidup yang lebih sehat,” ujar Daniel.
Sementara itu, Presiden Airbus Asia Pasifik, Anand Stanley, menambahkan bahwa Indonesia memiliki potensi yang besar dalam mendukung dekarbonisasi sektor aviasi.













