Sekitar 50% dari dana IPO akan digunakan untuk membiayai belanja modal termasuk pembelian kendaraan dan akuisisi pool, sekitar 35,71% untuk melunasi pinjaman, dan sekitar 14,29% akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan dan entitas anak. “Kami optimistis IPO ini akan memperoleh tanggapan positif dari berbagai kalangan. Melalui IPO, Perseroan akan makin berkomitmen untuk mengembangkan bisnis dan memperkuat posisi kami di bidang jasa transportasi, khususnya melalui penambahan jumlah mobil pada armada, memperkuat penetrasi dan ekspansi ke lokasi baru, mengembangkan bisnis limusin dan sewa mobil atau bus, serta terus memperkuat kualitas pelayanan dan efisiensi operasional,” ungkap Purnomo.
Paparan Publik dan Konferensi Pers dilakukan Blue Bird bersama dengan Penjamin Pelaksana Emisi Saham sebagai bagian dari masa penawaran awal (bookbuilding) dalam proses IPO, yang dilaksanakan untuk penjajakan minat awal dari para calon investor, baik retail maupun institusi.
PT Credit Suisse Securities Indonesia, PT Danareksa Sekuritas, bersama dengan PT UBS Securities Indonesia adalah penjamin emisi efek terhadap Blue Bird sehubungan dengan IPO tersebut.
Sebagai pemimpin pasar, Blue Bird menguasai 33% pangsa pasar di Indonesia berdasarkan jumlah armada yang beroperasi. Per 30 April 2014, jumlah keseluruhan armada adalah 30.298, sebanyak 23.932 di antaranya adalah Taksi Reguler. Terdapat juga sebanyak 7.504 tambahan izin lisensi taksi di seluruh Indonesia. Didukung dengan pengenalan masyarakat yang tinggi terhadap merek Blue Bird, berlandaskan pada keunggulan layanan, PT Blue Bird Tbk menunjukan kinerja positif. Pendapatan bersih perusahaan pada 30 April 2014 bila dibandingkan 30 April 2013 mengalami pertumbuhan 31,6%; yaitu sebesar Rp 1.477 miliar dari sebelumnya Rp 1.122 miliar.













