Mereka itu katanya adalah generasi melenial, sebuah generasi “jadi-jadian”, generasi “dadakan”, persis kayak tahu goreng dadakan, yang terbentuk tanpa landasan dan pedoman nilai-nilai dasar perjuangan.
Istana Negara Bertanggungjawab
Kembali kepada episode “telenovanto”, panggung sandiwara, yang telah menghina akal sehat kita. Sangat tepat jika kita mendesak Istana Negara dan KPK untuk mengklarifikasi dugaan keterlibatan sejumlah pihak, baik dalam mem back up secara politik, maupun merintangi penyidikan melalui dugaan skenario sakit dan sandiwara kecelakaan.
Pihak istana negara harus menyampaikan klarifikasi secara terbuka terkait dugaan keterlibatan Jenderal Luhut Pandjaitan dalam mem-back up Setya Novanto agar lepas dari jeratan hukum.
Walapun dalam pernyataannya, Presiden Joko Widodo menyampaikan tak mengintervensi penegakan hukum. Namun, dalam prakteknya Presiden Joko Widodo terkesan membiarkan Jenderal Luhut Panjaitan, “tangan kanan” dan “orang kepercayaannya”, melakukan akrobat politik, diduga untuk back up Setya Novanto.
Terkesan seperti pembagian peran dalam sebuah panggung sandiwara. Presiden Joko Widodo ditempatkan berperan sebagai “good boy”, mendukung pemberantasan korupsi. Sementara di sisi lain, Jenderal Luhut diberi peran antagonis sebagai “bad boy”.













