Sebagai contoh, kehadiran Jenderal Luhut Panjaitan menjenguk Setya Novanto saat tayangan “telenovanto” episode dua, “papa sakit jantung”. Kita menangkap kesan sebagai “kode” back up politik dari Istana Negara terhadap Setya Novanto.
Tercatat hingga dua kali Jenderal Luhut datang ke rumah sakit yang berbeda untuk jenguk Setya Novanto. Pertama, Jenderal Luhut datang ke Rumah Sakit Siloam Jakarta, tempat Setya Novanto dirawat.
“Saya lihat sakit, dan perlu penanganan dari dokter, itu saja yang saya lihat. Nggak ada (pembicaraan), saya kasihan saja lihatnya lemas, gitu saja. Saya nggak banyak ngobrol, dia banyak diam,” kata Pak Luhut(detik.com 13/9).
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tersebut, juga datang untuk kedua kalinya menjenguk Setya Novanto di RS Premier, Sabtu 30 September 2017. Peristiwa tersebut terjadi setelah Setya Novanto diputus bebas oleh hakim pra peradilan yang mengadili Setya Novanto.
Kehadiran Jenderal Luhut tak bisa dilihat dalam kapasitas sebagai sesama politisi Partai Golkar yang berempati terhadap musibah yang dialami Novanto. Jika kita membuka kembali ingatan kita terkait serial “telenovanto”, episode satu, “papa minta saham”, maka sangat jelas terungkap persekongkolan antara Setya Novanto, Jenderal Luhut Panjaitan dan M. Reza Chalid.













