Menurut doktor lulusan terbaik Universitas Walden, Amerika Serikat itu, keputusan mencopot atau mempertahankan Kapolri harus mempertimbangkan konteks politik dan strategi pemerintahan secara keseluruhan.
“Bagi saya, mempertahankan Jenderal Listyo Sigit sebagai Kapolri dapat menjadi bagian dari strategi politik untuk menjaga kekuatan institusi keamanan dan menghindari turbulensi yang bisa dimanfaatkan lawan politik untuk menyerang pemerintah,” tandas Mantan Anggota Dewan Pengawas Lembaga Kantor Berita Negara (LKBN) ANTARA itu.
Karena, kata Boni, pencopotan Kapolri di tengah situasi yang sensitif dapat memicu ketidakpercayaan publik dan persepsi negatif terhadap pemerintah karena dianggap internal pemerintah tidak solid.
Dia khawatir wacana pergantian di tengah demonstrasi dan tekanan politik yang berlangsung belakangan ini membuka celah bagi lawan politik untuk mengail di air keruh.
“Mempertahankan Kapolri memungkinkan pemerintah fokus pada reformasi institusi secara berkelanjutan tanpa terganggu oleh gejolak kepemimpinan,” tegas dia.
Lebih lanjut, Boni menilai langkah tersebut juga mencerminkan pendekatan hati-hati dalam membangun pemerintahan yang bersih dan efektif, sambil menghadapi tekanan politik dan tantangan besar di institusi keamanan.













