Jika bercermin ke internal BBRI, kata Sunarso, pergeseran isu terkait keterbatasan likuiditas ke masalah pelemahan permintaan kredit tersebut bisa ditunjukkan dari pertumbuhan kredit dan DPK.
“Secara industri, kredit hanya bertumbuh 1,49 persen, sedangkan di Bank BRI bertumbuh 4 persen. Ternyata, dana masyarakat tumbuhnya 13 persen. Bahkan, LDR kami masih 85 persen,” ujarnya.
Dengan demikian, ungkap Sunarso, ketakutan masyarakat terhadap proyeksi keterbatasan likuiditas tidak terbukti, justru masalah yang muncul berupa rendahnya minat publik untuk mendapatkan kredit dari perbankan.
“Nanti, kalau demand kredit sudah ada kembali, kami di bank siap untuk menyalurkan kredit,” imbuhnya.
Lebih lanjut dia menambahkan, sejauh ini kinerja BBRI mampu bertumbuh di tengah upaya perseroan dalam melakukan penyelamatan terhadap pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang terdampak oleh kondisi pandemi Covid-19.
“BRI secara masif melakukan upaya penyelamatan UMKM melalui restrukturisasi kredit senilai Rp183,7 triliun kepada 2,9 juta debitur,” kata Sunarso.











