Konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi terbesar dalam struktur PDB 2017 yaitu sebesar 56,13 persen, diikuti pembentukan modal tetap bruto 32,16 persen, ekspor 20,37 persen, konsumsi pemerintah 9,1 persen, konsumsi LNPRT 1,18 persen dan impor yang menjadi faktor pengurang 19,17 persen.
Menurut lapangan usaha, pertumbuhan ekonomi 2017 didukung oleh sektor informasi dan komunikasi yang tumbuh 9,81 persen, diikuti sektor jasa lainnya yang tumbuh 8,66 persen dan sektor transportasi dan pergudangan yang tumbuh 8,49 persen. “Namun, struktur PDB pada 2017 masih didukung oleh industri pengolahan sebesar 20,16 persen, sektor pertanian 13,14 persen dan sektor perdagangan 13,01 persen,” tambah Suhariyanto.
Suhariyanto mengatakan struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada periode ini didominasi oleh kelompok provinsi di Sulawesi yang tumbuh 6,99 persen, Jawa yang tumbuh 5,6 persen dan Maluku serta Papua yang tumbuh 4,89 persen.
Struktur ekonomi juga didukung oleh kelompok provinsi di Kalimantan yang tumbuh 4,33 persen, Sumatera yang tumbuh 4,3 persen dan Bali serta Nusa Tenggara yang tumbuh 3,73 persen. “Ekonomi Bali dan Nusa Tenggara tumbuh lebih rendah dari wilayah lain karena sektor pariwisata maupun jasa di kawasan ini sempat terganggu dari erupsi Gunung Agung,” ujarnya.














