“Ini adalah tantangan yang di dalamnya terdapat opportunity. Sebagai contoh sektor transportasi, upaya terbesar penurunan emisi pada sektor ini adalah menggunakan electric vehicle, yang akan turut menurunkan impor migas Indonesia yang selama ini menyebabkan defisit pada neraca anggaran berjalan,” jelasnya.
Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi EBT yang cukup besar seperti hidro, panas bumi dan lain-lain. Indonesia juga memiliki sumber-sumber mineral yang cukup besar dan akan menjadi tulang punggung teknologi EBT, seperti timah, nikel, dan lithium yang akan menjadi bahan dasar PLTS, PLTB, dan lainnya.
Terkait keputusan Presiden Joko Widodo yang melarang untuk melakukan ekspor bahan-bahan mentah, Haryadi menilai hal tersebut membawa dampak positif transisi industri hulu, seperti tumbuhnya industri smelter, yang perlu dikembangkan ke arah hilir, hingga Indonesia dapat memproduksi sendiri baterai dan solar panel, yang tentunya akan menumbuhkan industri Indonesia dan opportunity ini harus dicapai.
“Dalam penerapan green energy, kita melihat adanya tantangan dan kita melihat adanya opportunity. Marilah kita jalankan tantangan tersebut, serta kita ambil opportunitynya agar Indonesia tetap terus tersenyum,” pungkas Evy Haryadi.













