Dari dalam negeri jelas dia, pelaku pasar uang masih wait and see atas ketidakpastian kebijakan harga BBM. Kondisi itu, menyebabkan para importir maupun pengusaha lainnya menyimpan valas dollar AS. Sebab, ketidakpastian harga BBM menyimpan risiko sehingga jadi tekanan negatif bagi rupiah. Apalagi, tren penguatan dollar AS cukup stabil “Jadi, pergerakan mata uang domestik seiring dengan mata uang Asia yang juga berada dalam tren melemah. Jika nilai tukar domestik menguat maka barang ekspor dari dalam negeri akan menjadi mahal harganya sehingga kalah saing dengan negara tetangga,” imbuh dia.
Karena itu, dia memperkirakan, tekanan terhadap rupiah masih terus berlanjut. Data-data makro yang ada saat ini belum cukup menopang pergerakan rupiah. “Pertumbuhan ekonomi yang melambat dan inflasi yang masih tinggi membuat rupiah sulit menguat. Namun Bank Indonesia (BI) terus menjaga rupiah,” pungkas dia.














