Kebijakan pencabutan subsidi kata Santoso bertolak belakang dengan kampanyenya Jokowi menuju RI 1 dengan menggadang-gadangkan konsep TRISAKTI yang berarti Berdikari secara ekonomi, Berdaulat secara politik dan Berkepribadian secara budaya.
Namun, sangat mustahil berdikari secara ekonomi apabila sistem ekonominya diletakan pada kekuatan modal dan diserahkan kepada mekanisme pasar bebas, tanpa membangun industrialisasi nasional yang kuat dari hulu ke hilir yang kemudian mampu menopang perekonomian nasional.
“Selama sistem ekonominya masih berorientasikan kapitalisme maka politik,sosial dan budayanya pun akan berorientasi kapitalistik pula. Dengan kata lain Rezim Jokowi-JK adalah antek Neolib dan rezim pembual sekaligus rezim yang mendistorsi nilai-nilai sejarah nasional,” imbuhnya.
Bahkan demi menjaga iklim investasi yang kondusif dan menarik investor untuk menanamkan modalnya ke Indonesia, pemerintahan Jokowi-Jk juga tidak malu-malu menjalankan kebijakan politik upah murah di tengah-tengah harga kebutuhan pokok yang sedang melambung tinggi akibat dampak kenaikan harga BBM.
Hal ini membuktikan, pemerintah tidak melakukan perlindungan terhadap rakyat mayoritas yaitu kelas buruh. Justru sebaliknya, rezim ini menyiapkan aparatur negara TNI/POLRI dengan seperangkat alat represif lainnya milisi reaksioner (preman bayaran) untuk membungkam gerakan buruh.













