Legitimasinya pun besar: dia adalah cucu dari Soekarno, presiden pertama sekaligus salah satu proklamator kemerdekaan, yang juga adalah perumus dan pencetus dari Pancasila, dasar bangsa dan negara Indonesia.
Menurut saya, disinilah kematangan seorang Megawati sebagai seorang politikus.
Untuk dia, politik bukan sebuah dinasti, bukan sebuah pelestarian nama keluarga, tetapi sebuah panggilan nurani, untuk mewujudkan kesejahteraan umum dan cita-cita proklamasi.
Sebagai seorang Ketua Umum yang selama ini mendirikan dan membesarkan PDIP, Megawati memilih suatu privilege, sebuah kekhususan, sebuah hak khusus, untuk memilih siapapun yang akan menjadi calon presiden partai pimpinannya.
Dia bisa saja memberikan posisi tersebut kepada keluarga ataupun orang dekatnya.
Tetapi, dia memberikannya kepada Ganjar, karena Ganjar, menurut Megawati, mampu menarasikan cita-cita Soekarno: berdikari, menjunjung tinggi harga diri bangsa dan negara, dan mampu mengangkat harkat bangsa Indonesia.
Hal ini juga mengembalikan ingatan masyarakat atas penetapan Joko Widodo sebagai calon presiden tahun pemilihan 2014, dimana Jokowi, sapaan akrabnya, bukanlah orang lingkar dalam ataupun keluarga dari trah Soekarno, tetapi Megawati berani memilih Jokowi.
Ganjar dikenal sebagai sosok yang sederhana dan dekat dengan masyarakat.
Ganjar menterjemahkan paham marhaenisme dengan cara modern, melalui media sosial. Ekonomi kerakyatan olehnya diwujudkan dalam kerjasama rakyat dan wirausaha yang dirinya usung.
Ganjar sadar akan kemandirian politik Indonesia, bahwa politik luar negeri Indonesia harus berdasarkan hak kemerdekaan setiap bangsa.
Ganjar ingin menunjukkan bahwa kedaulatan tidak direduksi oleh keinginan dan pencapaian ekonomi semata; seharusnya, bangsa ini memiliki harga diri dan kedaulatan politik.












