“Kalau Amerika pada tahun 2022 nanti akan mengirimkan NASA ke yupiter sebagai alternatif kehidupan, lalu capres kita mau melakukan apa di tahun itu?” katanya mempertanyakan.
Sama halnya ketika semua meributkan kenaikan harga BBM, termasuk partai, politisi, dan pengamat, padahal isu yang sama sudah ada sejak puluhan tahun, dan terus diulang-ulang.
Namun tak ada yang bicara program energi ke depan. “Jadi, popularitas harus diikuti kualitas, dan track record-rekam jejak yang baik, dan rakyat berhenti dengan politik pencitraan. Sebab, Indonesia yang besar ini butuh figur yang punya terobosan baru untuk memajukan bangsa ini,” tambah Teguh.
Sementara itu, Emanuel menegaskan DPD RI sedang memikirkan bagaimana memunculkan capres independen, meski untuk Pemilu 2014 tak mungkin.
Masalahnya, harus amandemen UUD 1945.
Tapi, hal itu akan terus diusahakan untuk mengakomodir aspirasi rakyat daerah.
“Kalau independen seleksinya dari bawah, dan bukan dari partai. Saya optimis masih banyak orang terbaik di negeri ini, meski belum memiliki pandangan yang sama tentang figur yang layak untuk negara ini,” tutur anggota DPD RI dari NTT ini.
Bahkan lanjut Emanuel, bisa saja capres independen tersebut dijaring dari daerah, agar benar-benar memikirkan kesejahteraan dan kemajuan daerah.














