Dia membandingkan tahun 2019 sebelum pandemi Covid-19, angka gini rasio ketika itu di level 0,380.
“Kue kemakmuran harus dinikmati bersama, kecenderungan naiknya kesenjangan sosial ini harus dikendalikan oleh pemerintah,” ucap Said.
Selain itu, Said menuturkan seluruh agenda pembangunan yang dijalankan belum mampu mengangkut seluruh rakyat keluar dari kemiskinan ekstrim.
Padahal, dia mengungkapkan pemerintah punya target penghapusan kemiskinan esktrim di tahun 2024.
“Konvergensi program atas penghapusan kemiskinan ekstrim telah dijalankan. Jika realisasinya hingga 2024 penghapusan kemiskinan ekstrim belum tuntas, kita fasilitasi melalui RAPBN 2025 agar pemerintah tetap bisa menuntaskannya,” ungkap Said.
Di samping itu, Said menekankan pentingnya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia untuk mengatasi stunting.
Menurutnya, target angka prevalensi stunting ke depan adalah 14,0 persen pada tahun 2024.
Pada tahun 2023 masih berada pada angka 21,5 persen.
“Jika target prevelensi sebesar 14,0 persen belum juga tercapai, maka diperlukan upaya extraordinary, yang meliputi pendekatan spasial untuk daerah fokus intervensinya,” jelas Said.
Said juga mengungkapkan pertumbuhan ekonomi nasional masih di angka lima persen.













