Padahal, Indonesia ingin naik kasta menjadi negara maju di 2045.
Dia berpendapat hal tersebut bisa dicapai dengan memanfaatkan secara optimal bonus demografi yang akan berakhir di tahun 2036.
“Alih-alih memanfaatkan bonus demografi secara optimal, dukungan anggaran pendidikan 20 persen dari belanja negara belum mampu mengubah rakyat menjadi tenaga kerja terampil, penuh inovasi, dan punya etos kerja tinggi,” ungkap Said.
Belum lagi, kata dia, lebih dari separuh angkatan kerja masih lulusan SMP, sehingga tidak bisa diandalkan untuk bersaing dalam pasar tenaga kerja.
Said menuturkan dalam struktur serapan tenaga kerja, porsi pengangguran tahun 2022 didominasi lulusan SMA sebesar 8,5 persen dan SMK 9,4 persen.
“Mereka yang lulusan SMP ke bawah terserap sebagai tenaga kerja kasar, masuk sektor informal, dan upah murah. Mereka yang lulusan perguruan tinggi masuk ke sektor formal. Data ini memberi arti, mereka yang lulus SMA dan SMK dan tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, kemungkinan besar dari rumah tangga kurang mampu,” ucapnya.
Karenanya, Said mendorong perguruan tinggi agar lebih inklusif terhadap keluarga tidak mampu.
Menurutnya, Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat hampir 10 juta penduduk berusia 15-24 tahun atau biasa disebut generasi Z (Gen Z) menganggur, tidak sekolah, tidak bekerja atau tidak mengikuti pelatihan atau Not Employment, Education, or Training (NEET).













