Said merinci bahwa dari 44,47 juta penduduk berusia 15-24 tahun pada Agustus 2023, sekitar 22,5 persen atau 9,89 juta masuk dalam kategori NEET.
Dia menegaskan anggaran pendidikan 20 persen dari belanja negara harus mampu memberikan keterampilan anak-anak muda.
Di sisi lain, Said mengatakan pembangunan infrastruktur dan hilirisasi belum mampu mengubah Haluan ekonomi, untuk menavigasikan ekspor bernilai tinggi.
“Tingkat investasi untuk menghasilkan barang/jasa belum efisien. ICOR kita tahun 2014 tercatat 5,5. Setelah hampir sepuluh tahun kita menggelorakan pembangunan infrastruktur, skor ICOR kita malah naik di kisaran 6,5 tahun 2023. Padahal negara-negara peers, seperti Malaysia di angka 4,5, Thailand 4,4, Vietnam 4,6, dan Filipina bahkan jauh lebih rendah 3,7,” ungkapnya.
Dia menjelaskan dari data tersebut menunjukkan setiap penambahan Rp 1 miliar output dibutuhkan tambahan investasi sekitar Rp 6,5 miliar, sementara negara negara peers hanya di kisaran Rp 3 hingga 4 miliar.
“Seharusnya pembangunan infrastruktur dan investasi sumber daya manusia dan teknologi memberi kontribusi besar bagi turunnya koefisien ICOR nasional,” jelas Said.
Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP) ini berharap hilirisasi akan menjadi titian tangga menjadi negara industri.













