Berdasarkan data yang tersedia, pada tahun 2024, Indonesia mengekspor sekitar 1,4 juta ton minyak kelapa sawit (CPO) ke Amerika Serikat.
Pada januari 2025 saja, ekspor minyak sawit ke Amerika sudah mulai menurun sebesar 20% dibandingkan Januari 2024.
Padahal kebijakan penaikan tarif di januari itu saja masih dalam bentuk “gosip-gosip”.
Sudah begitu keadaannya, Pemerintah Indonesia juga menaikkan tarif untuk minyak sawit bagi barang keluar dalam bentuk PE dan BK yang saat ini sudah mencapai 170 USD/Mt.
Boleh saja, misalnya ada Biodiesel 40%.
Dengan maksud, penyempitan pasar di US akan memberikan solusi pasar domestik.
Tetapi perlu di ingat, harga jual CPO masih bagus untuk diluar sana.
Belum lagi, gosip-gosip yang beredar, biodiesel akan di mayoritasi dari kebun-kebun dan Refinery yang nantinya akan dibangun kembangkan oleh Agrinas.
Dengan begitu, tentu akan berdampak.
Menurut saya solusinya adalah;
1. Tantangi pasar Uni Eropa dengan berusaha untuk wajib compliance, tumbuh kembang bersama petani disana.
2. Lobby pemerintah, turunkan PE dan BK agar harga TBS tidak terpengaruh akibat pasar US.
3. Lobby pasar-pasar baru dengan barang-barang yang kompetitif misalnya ISPO dengan standar yang tinggi dan skema audit yang bener-bener dilakukan secara akuntable dan transparan dan Independen dari pemerintah.














