Sebanyak 29 kepala negara/pemerintahan dan pimpinan organisasi internasional berkumpul membahas sinergi kebijakan, hubungan antarmasyarakat dan infrastruktur pada forum BRI yang berlangsung di Beijing, 14-15 Mei 2017.
Meski tidak mengungkap nilai kesepakatan yang diraih Indonesia, Luhut menyebut sejumlah negara mendapatkan dana investasi yang bervariasi. “Banyak negara lain yang sudah mendapatkan dana investasi ini, mungkin masih banyak negara yang ingin mendapatkannya juga. Yang sudah dapat antara lain negara Saudi Arabia misalnya, mereka membeli sebagian Saudi Aramco, Pakistan mendapat hingga 62 miliar dolar AS, Malaysia dapat lebih dari 30 miliar dolar AS, Filipina juga mendapat lebih dari 20 miliar dolar AS,” katanya.
Lebih lanjut, Luhut mengatakan dalam kerja sama tersebut pemerintah memfasilitasi dan memberi kemudahan kedua belah pihak untuk mewujudkan kerja sama serta memberi insentif seperti tax holiday dan lainnya. Adapun skema kerja sama yang disepakati dalam forum itu bukan berbentuk pinjaman kepada pemerintah.
Menurut Luhut, China sebagai negara dengan ekonomi besar memiliki dana hingga 3 triliun dolar AS. Dengan hanya menggelontorkan sepertiganya saja atau 1 triliun dolar AS, diperkirakan bisa membangun perekonomian baru di di berbagai negara. “Forum Belt and Road Forum ini saya lihat, mungkin bisa dikatakan lebih baik dari APEC. Karena mereka membicarakan hal-hal konkrit. Mereka (China) kan punya dana 3 triliun dolar AS dan jika mereka mainkan 1 triliun dolar AS saja itu bisa membangun perekonomian baru di berbagai negara. Walau begitu kita tetap harus hati-hati, kita tidak akan menjadikan (investasi) ini menjadi pinjaman karena kita ingin mempertahankan posisi utang kita kurang dari 30 persen dari GDP,” katanya.















