Oleh: Deodatus Sunda Se- Direktur Institut Marhaenisme 27
“General, con cuatro columnas avanzando hacia Madrid, ¿cuál tomará la ciudad?” (“Jenderal, dengan empat kolom bergerak menuju Madrid, mana yang akan merebut kota?”) “La quinta columna.” (“Kolom kelima.”)
Percakapan antara seorang wartawan dengan seorang jenderal Nasionalis pada perang saudara Spanyol, Emilio
Mola Vidal
Dari balik kegaduhan demonstrasi dan retorika progresif nan revolusioner yang kerapkali memenuhi aula, taman, dan ruang kampus, tersembunyi sebuah perubahan yang pelan namun pasti menggerogoti gerakan sosial Indonesia.
Perubahan tersebut tidak datang dengan seragam atau warcry yang terang-terangan, melainkan dengan senyum muka familiar, jabat tangan erat, dan daftar prestasi organisatoris yang panjang.
Inilah wajah “Fifth column” ala Indonesia hari ini: mantan aktivis, senior pergerakan, dan organisasi-organisasi mapan seperti yang tergabung dalam Cipayung Plus, yang baik secara sadar atau tanpa disadari telah beralih fungsi dari penggerak perubahan menjadi penjaga status quo.
Konsep “La quinta columna”, yang lahir dalam gejolak Perang Saudara Spanyol 1936, menemukan resonansi yang pahit dalam konteks Indonesia hari ini.













