Berdasarkan data yang didapat dari rumah123.com, 95 persen properti di Jakarta harganya di atas Rp 480 juta. Sementara hanya 5% saja harga property di Jakarta yang dibawah Rp 480 juga.
Lamak berharap agar Anies-Sandi menyampaikan informasi tentang kondisi perumahan di Jakarta berbasis data. “Apalagi yang digunakan adalah listing rumah dijual yang ada di website properti. Kalaupun ada, tidak signifikan jumlahnya untuk bisa memenuhi backlog perumahan di DKI Jakarta yang mencapai 1,5 juta unit berdasarkan jumlah keluarga berpenghasilan rendah,” ungkap Lamak.
Analis Properti dari CUDES mengatakan angka 1,5 juta itu belum ditambahkan dengan jumlah potensial first home buyer atau yang disebut sebagai milenials.
CUDES memperkirakan backlog perumahan di DKI Jakarta sudah melampaui angka 2juta, dari total secara nasional 13,5 juta unit seturut data dari Kementerian PUPR.
CUDES berani memastikan bahwa Cagub Anies Baswedan salah dalam menggunakan data referensi tentang ketersediaan rumah tapak terjangkau di Jakarta. Hal ini akan berbahaya bagi program perumahannya jika kelak terpilih sebab tak mungkin dapat dieksekusi. “Masalah perumahan di DKI Jakarta berbeda dari daerah lain. Bicara keberpihakan, di daerah lain mungkin persoalan selesai dengan mengandalkan keberpihakan, tetapi di DKI Jakarta, good will dan keberpihakan saja tidak cukup karena ketergantungan terhadap pasokan atau supply adalah hal yang utama,” ujar Lamak.













