Oleh: Joanis Christo Tara OFM
Hakikat agama adalah keselamatan. Tanggung jawab agama-agama adalah membantu dan mengantar semua pengikutnya berjumpa dengan Allah. Kekudusan, kesucian, damai sejahtera, antara lain nilai yang mesti diajar dan dianjurkan kepada semua umat. Karena itu, haram hakikatnya bagi semua agama untuk mengajar dan menganjurkan hal-hal yang bertentangan dengan hakikat agama-agama.
Itu tidak berarti agama-agama mesti dijauhkan dari hiruk pikuk dunia yang sering kali identik dengan dosa dan kejahatan. Agama-agama memang tempatnya di dunia, menjadi bagian dari dunia, terlibat dalam duka dan derita, kecemasan dan kekuatiran, kebahagiaan dan kegembiraan, seluruh dinamika dunia.
Agama-agama tidak pernah menjadi menara gading di tengah dunia. Atau membangun imperium sendiri, menutup pintu dan jendela dari keributan dunia.
Demikianlah agama-agama itu selalu berdimensi politis. Dia selalu berhubungan dengan dunia; terlibat dalam urusan-urusan publik, tercebur dalam duka dan kecemasan dunia; berpeluh dan berkeringat; berjerih payah dan berjuang bersama pria dan wanita untuk sebuah kehidupan yang layak; demi kebaikan dan kesejahteraan bersama.
Kendati demikian, agama-agama sering kali terlalu jauh tercebur dalam dunia, terlibat dalam dosa. Agama-agama dapat menjadi sumber dan  menghasilkan kejahatan demi kejahatan. Dia  bersekutu dengan kemungkaran, bersatu dengan kegelapan. Agama-agama  dapat tenggelam dalam masa-masa suram dan gelap berkepanjangan.












