Agama-agama kerap kali diperjualbelikan. Ajaran-ajarannya didagang untuk keuntungan ekonomi. Ayat-ayat Kitab Sucinya dijual untuk kepentingan politik kelompok tertentu. Nama Allah diteriakkan di tempat-tempat ibadah untuk mendukung sekaligus menolak orang-orang tertentu. Ancaman dan teror politik menganatasnamakan agama bertebaran di setiap tempat kudus. Demi keuntungan ekonomi orang lupa hakikat agama; untuk kepentingan kekuasaan orang tidak lagi takut akan Allah. Demikianlah agama-agama diperdagangkan dan dipolitisasi.
Pilgub DKI Jakarta adalah contoh nyata agama-agama diperdagangkan dan dipolitisasi. Di satu pihak, ada orang-orang , dengan otoritas yang dimiliki, memperdagangkan ajaran agama, menjual ayat-ayat Kitab Suci. Mereka memanen rupiah, menegak keuntungan ekonomi. Sebab tidak ada makan siang gratis.
Di lain pihak, ada politisi yang menunggang agama demi nafsu kuasa. Mempropoganda agama untuk memanen suara, memperdagangkan ajaran untuk mendulang dukungan, menjual ayat untuk menghimpun massa. Dia tidak malu-malu menjual SARA di atas tanah kebhinekaan. Politik sektarian paling vulgar yang pernah ada di negeri ini.
Agama dipolitisasi demi ambisi kekuasaan, orang mati pun dibawa-bawa, sangat mengerikan. Ada ketidakwarasan yang sedang dipertontonkan manusia-manusia bergama, tapi sesungguhnya tidak beriman.












