Menurutnya, perdagangan Britania Raya (UK) dengan Uni Eropa mencapai 45% dari total perdagangannya, sehingga dampak Brexit akan lebih terasa untuk UK sendiri dibandingkan Uni Eropa.
Untuk Indonesia sendiri, eksposur perdagangan ke Uni Eropa tidak besar (ekspor sebesar 3% dari PDB atau 10% dari total ekspor Indonesia). Dari sisi tersebut, dampak Brexit terhadap perekonomian Indonesia cenderung minim. “Pada akhirnya investor akan kembali kepada fundamental, mari kita fokus pada hal ini,” terangnya.
Dia menjelaskan, PDB kuartal 1-2016 (tahunan) sebesar 4.92% – lebih rendah dibandingkan kuartal 4-2015 sebesar 5.04% . Namun jauh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun 2015 sebesar 4.71%.
Pemerintah mengimplementasikan skala prioritas: belanja infrastruktur meningkat pesat, yaitu naik 3 kali lipat dibandingkan periode yang sama di 2015, sementara belanja non infrastruktur sebisa mungkin ditekan. Paruh kedua 2016, inflasi yang terjaga, dukungan kebijakan moneter longgar diharapkan tetap menopang konsumsi swasta, yang menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi.
Di bulan Mei terjadi surplus perdagangan sebesar USD375.6 juta. Secara bulanan, baik ekspor maupun impor sama-sama meningkat dibanding bulan April. Kumulatif sepanjang tahun berjalan sampai bulan Mei 2016 Indonesia menikmati surplus perdagangan sebesar USD2.7 miliar (ekspor USD56.59 miliar vs. impor USD53.89 miliar). Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, ekspor nonmigas tetap mendominasi kisaran 90% dari total ekspor. “Dan selama tahun berjalan 2016, Amerika Serikat, Jepang, Tiongkok, Singapura serta India berkontribusi 46,1% dari keseluruhan negara tujuan ekspor nonmigas. Di lain pihak, keseluruhan Uni Eropa yang terdiri dari 27 negara hanya berkontribusi 11.3%,” pungkasnya.














