Selain itu, sambungnya, pada jalan tol Semarang-Solo ini terlalu banyak tikungan dan naik turunnya cukup tajam. Bahkan sangat minim lampu penerangan. Kondisi tol seperti ini tentu berbahya bagi pengguna jalan pada malam hari. “Apalagi rest area yang tersedia dan layak pakai hanya satu pada jalur Semarang-Ungaran. Sementara rest area yang lain tidak memenuhi syarat,” jelasnya.
Menurut Wahid, jalur Solo-Semarang ini masih minim sekali rest area yang layak. Karena kita temukan kemarin dalam kondisi kotor dan becek. Malah, tempat sholat lantainya terbuat dari kayu yang tidak layak dan sangat jauh dari kesucian.
Dikatakan Wachid, pihaknya menemui pemakai jalan tol sering mengeluh saat menggunakan kartu e-Tol pada Gerbang Tol Otomatis (GTO). Karena ternyata sensornya sering macet. Sehingga menyebabkan sang supir berdebat dengan petugas GTO. Sebab harus bayar tunai dengan. Sementara antrian panjang mobil sudah menunggu.
Komisi VI DPR minta PT Jasa Marga serius menangani pelayanan ini. Sehingga masyarakat tidak “disusahkan”. Masyarakat, pada intinya tak masalah meskipun dikenakan dengan tarif mahal tapi nyaman dan cepat. “Nah, ini sudah bayarnya mahal, pelayanan buruk. Tentu membuat masyarakat kecewa
,” tegasnya.













