JAKARTA-Upaya mencetak atlet olahraga berprestasi di Indonesia tampaknya akan sulit terwujud lantaran minimnya political will negara.
Hal ini tercermin pada rendahnya alokasi anggaran (budget) untuk pembinaan olahraga prestasi, yang hanya 0,33% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Anggaran untuk bidang olahraga tersebut lebih kecil dari yang didapatkan untuk bidang kesehatan dan pendidikan.
“Dengan anggaran yang begitu kecil, prestasi olahraga Indonesia sulit untuk berkembang. Jika dibandingkan dengan pengelolaan anggaran olahraga Indonesia dengan Thailand, jauh sekali perbedaannya. Anggaran untuk olahraga di Thailand besar sekali dan hasilnya pun, banyak atlet berpretasi di sana,” ujar Wakil I Ketua Umum KONI Pusat, Suwarno dalam kegiatan Pembekalan Pewarta Olahraga dalam Rangka Fasilitasi Management Event Olahraga Tahun 2016 di Wisma PP PON Cibubur, Jakarta, Selasa (29/8).
KONI jelasnya sulit melakukan pembinaan atlet secara menyeluruh lantaran anggaran yang sangat terbatas.
Bahkan, jumlah anggaran negara untuk pembinaan olahraga pun angkanya fluktuatif. Hal ini bisa dilihat pada alokasi anggaran pemerintah sejak 2012 hingga 2016 ini.
Pada tahun 2012 jelasnya, anggaran Kemenpora untuk Pembinaan Olahraga Prestasi sebesar Rp 474,5 Miliar. Dari dana ini sebesar 0,016% atau setara Rp 9 Miliar diberikan KONI.













