“Dengan kondisi ini, KONI tidak bisa berperan besar, karena keterbatasaan anggaran,” jelasnya.
Meski kontingen Indonesia sukses membawa pulang satu medali emas dan dua perak di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, kata Suwarno, belum ada perubahan signifikan terhadap peningkatan prestasi olahraga.
Buktinya, Indonesia belum bisa mengandalkan cabang olahraga (cabor) lain di luar bulutangkis, angkat besi, dan panahan.
”Jadi kalau kita bisa meraih medali dari cabor bulutangkis dan angkat besi pada Olimpiade Rio lalu, itu bukanlah hal yang luar biasa. Karena kedua cabor ini memang sudah menjadi cabang unggulan kita di Olimpiade dalam beberapa tahun terakhir. Jadi tidak ada perubahan yang signifikan terhadap olahraga kita pasca Olimpiade,” kata mantan Komandan Satlak Prima ini.
Menurutnya, sebelum Olimpiade Rio, pihaknya telah mempersiapkan 12 cabor berdasarkan prestasi terakhir.
Namun dari ke-12 cabor tersebut, hanya tujuh cabor yang lolos ke Olimpiade, beberapa di antaranya lewat ‘wild card’. Pun demikian, dari ketujuh cabor tersebut, Indonesia masih tetap mengandalkan ketiga cabor di atas.
“Untuk itu, kami berharap, Kemenpora perlu melakukan perubahan signifikan bagi peningkatan olahraga Indonesia secara menyeluruh,” pungkasnya.












