KUPANG – Dosen Administrasi Bisnis FISIP Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang Ricky Ekaputra Foehmenilai gebrakan Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewo dengan menggelontorkan dana Rp200 Triliun ke perekonomian menjadi momentum penting bagi dunia usaha.
Bagi pelaku UMKM, kebijakan ini ibarat suntikan oksigen yang bisa mendorong laju pertumbuhan.
“Namun, bagi perbankan, peluang besar ini juga menyimpan tantangan serius seperti risiko kredit macet yang harus diantisipasi,” tegasnya.
Sebelumnya, Kemenkeu menggelontorkan dana senilai Rp 200 triliun dari Bank Indonesia (BI) ke enam bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Adapun dana tersebut disalurkan ke Bank Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing sebesar Rp 55 triliun, serta BTN Rp 25 triliun dan BSI senilai Rp 10 triliun.
Menurut Ricky Foeh, dana segar yang memperkuat likuiditas sistem keuangan akan membuat bunga kredit cenderung turun.
Bagi UMKM, kondisi ini adalah kesempatan langka.
Akses pembiayaan yang lebih murah akan membuka ruang ekspansi usaha, meningkatkan produksi dan memperluas lapangan kerja.
“Bila diarahkan dengan benar, UMKM bisa menjadi motor penggerak utama pemulihan ekonomi nasional,” jelasnya.














