Bank Lebih Agresif, Risiko Juga Meningkat
Lebih lanjut Ricky Foeh menegaskan likuiditas yang longgar mendorong bank menyalurkan kredit lebih agresif.
Namun, dalam euforia pertumbuhan, ada bahaya moral hazard.
Dorongan mengejar keuntungan bisa membuat bank melonggarkan analisis risiko.
Hasilnya, kredit bisa mengalir ke sektor yang tidak benar-benar produktif atau berisiko tinggi.
“Jika tidak dikendalikan, non-performing loan (NPL) berpotensi meningkat dan membebani stabilitas keuangan,” tuturnya.
Untuk itu, dia meminta pemerintah perlu memastikan dana Rp200 triliun ini tidak hanya menjadi pemicu konsumsi sesaat, tetapi benar-benar masuk ke sektor produktif.
Sinkronisasi kebijakan antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, dan OJK sangat penting.
Pengawasan ketat terhadap kualitas kredit harus menjadi prioritas agar bank tidak terjebak dalam gelombang kredit bermasalah.
Lebih lanjut, Ricky menjelaskan dana Rp200 triliun adalah angka besar dengan potensi efek luar biasa.
UMKM bisa melesat, daya beli masyarakat meningkat, dan ekonomi nasional lebih cepat pulih.
Namun Ricky Foeh mengingatkan perbankan harus tetap rasional dan waspada.
“Kredit produktif adalah jalan keluar, sementara euforia tanpa kendali hanya akan menghadirkan masalah baru di kemudian hari,” pungkasnya.














