Oleh: Dimas Ardinugraha – Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia
Ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menembus rekor all time high (ATH), tajuk utama media sering menyorot “pasar sedang mahal” atau “euforia akan segera mereda.”
Faktanya, rekor baru hanyalah satu titik data dalam perjalanan panjang pasar.
Di 2025, IHSG menutup tahun dengan penguatan dua digit sembari mencetak puluhan rekor harian, dan memasuki 2026 tren kenaikan berlanjut hingga menorehkan level ATH baru menurut rilis dan rekap BEI serta data historis indeks.
Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan investor, khususnya pengguna reksa dana, di tengah tercetaknya rekor demi rekor?
ATH itu normal, bukan alarm otomatis
Pasar yang sehat memang sewaktu waktu mencetak rekor baru. Rekor hanyalah konsekuensi aritmetika dari tren laba emiten yang tumbuh dan likuiditas yang mendukung.
Di Indonesia, 2025 menjadi contoh bagaimana pasar bisa pulih pasca gejolak, mencetak 24 ATH sepanjang tahun, dan menutup di level tertinggi baru, lalu berlanjut pada 2026.
Implikasi praktisnya, ATH tidak otomatis berarti “pasar pasti turun.”
Data historis global juga menunjukkan kenaikan dan pemulihan bisa terjadi cepat dan tak terduga. Itulah sebabnya meninggalkan pasar lalu menunggu harga turun sering berujung ketinggalan best days yang menggerus hasil jangka panjang.














