Namun, saat rotasi pasar kembali ke fundamental dan likuiditas, produk yang terdiversifikasi dan berprinsip tata kelola cenderung mendapat potensi lebih.
Psikologi investor: bias saat euforia lebih berbahaya dari volatilitas
ATH sering memicu FOMO (takut tertinggal), overconfidence, dan performance chasing. Praktisi pasar modal menekankan bahwa bias perilaku sering menggerus hasil investasi karena mendorong buy high, sell low.
Edukasi dari pelaku industri menyoroti tiga bias utama: overconfidence, herding/FOMO, dan loss aversion, serta menganjurkan disiplin data dan proses. Agen penjual reksa dana juga mengingatkan bahwa market timing sulit bahkan bagi profesional; strategi yang lebih andal adalah investasi berkala (Dollar Cost Averaging) dan diversifikasi lintas aset, terutama saat emosi memanas.
“Keluar dulu, masuk lagi nanti” jarang berhasil
Sejumlah studi populer menunjukkan betapa mahalnya melewatkan “beberapa hari terbaik” setelah gejolak.
Intinya: rebound terjadi cepat, dan absen beberapa hari kunci berpotensi memangkas imbal hasil secara drastis.
Karena hampir mustahil menebak kapan terjadinya best days, maka disiplin alokasi dan time in the market berpeluang menghasilkan profil imbal hasil/risiko yang lebih baik bagi mayoritas investor.














