Bagaimana menerjemahkan ATH menjadi keputusan yang lebih cerdas?
Setia pada tujuan dan jangka waktu yang sudah direncanakan: Evaluasi portofolio terhadap goal (pendidikan, pensiun, wealth accumulation), bukan terhadap satu titik ATH. Ini juga sejalan dengan penekanan regulator untuk meningkatkan kualitas pemahaman risiko dan transparansi produk bagi investor.
Pastikan diversifikasi lintas aset & strategi: Jangan berfokus pada satu sektor atau satu instrumen yang baru saja outperform.
Kombinasikan saham kapitalisasi besar, obligasi, dan pasar uang sesuai profil risiko. Terapkan DCA dan rebalancing: Di fase euforia, DCA membantu menahan diri dari overtrading dan menormalisasi harga masuk. Rebalancing berkala mengunci sebagian gain dari aset yang sudah melesat dan mendorong aset yang tertinggal.
Gunakan tolok ukur yang tepat: Jika reksa dana Anda berfokus pada blue chips/likuiditas tinggi, membandingkannya kinerjanya dengan IHSG bisa menyesatkan. Saatnya berkenalan dengan beragam indeks yang lebih tepat menggambarkan portofolio Anda.
Memahami dispersi: Perbedaan antara IHSG, LQ45, dan reksa dana saham bisa melebar pada fase tertentu. Ini sering mencerminkan komposisi dan kriteria indeks/portofolio, bukan kegagalan strategi. Ketika pasar berotasi dari high momentum ke quality/liquid blue chips, selisih tersebut berpeluang mengecil.














