JAKARTA-Pemerintah memproyeksikan defisit anggaran akan melebar, dari target dalam APBN 2017 sebesar 2,41 persen terhadap PDB, menjadi 2,6 persen terhadap PDB, karena adanya tambahan belanja prioritas. “Mungkin kami akan menaikkan defisit menjadi 2,6 persen, atau bahkan slightly diatas itu,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam diskusi dengan wartawan di Jakarta, Senin (19/6/2017).
Pelebaran defisit anggaran tersebut, kata Ani-sapaan akrabnya, akan masuk dalam target RAPBN-P 2017 setelah menghitung potensi tambahan belanja mendesak dan beban subsidi energi. Hal ini mempertimbangkan potensi penurunan (shortfall) penerimaan perpajakan hingga Rp50 triliun dan tambahan belanja sebesar Rp10 triliun. “Kita mendeteksi penerimaan perpajakan ada potensi shortfall Rp50 triliun. Kalau dari sisi belanja negara, kami akan melihat kenaikan sampai Rp10 triliun. Total termasuk pergeseran belanja barang ke belanja modal,” ujarnya.
Dengan adanya pelebaran defisit anggaran itu, tambah Sri Mulyani, maka terdapat tambahan pembiayaan untuk menutup defisit fiskal hingga mencapai Rp37 triliun-Rp40 triliun. “Dari sisi defisit Rp330 triliun, naik menjadi Rp367 triliun atau Rp370 triliun. Tambahan sekitar Rp37 triliun-Rp40 triliun. Kita finalkan ini setelah mendapatkan penghitungan dari kementerian lembaga dan yang paling banyak bergerak adalah subsidi,” ujarnya.














