Bung Dendy juga menekankan bahwa DPD GMNI DKI Jakarta memiliki tanggung jawab historis dan strategis sebagai barometer gerakan mahasiswa nasional.
Menurutnya, Jakarta bukan hanya ibu kota negara, tetapi juga ruang strategis pertarungan gagasan, ideologi, dan arah masa depan bangsa.
“GMNI Jakarta harus kembali menjadi episentrum gerakan. Kita harus menjadi percontohan dalam kaderisasi, konsolidasi organisasi, serta militansi perjuangan. Baik di level internal GMNI maupun dalam dinamika gerakan nasional, DKI Jakarta harus menjadi referensi dan penggerak,” lanjutnya.
Lebih jauh, Deodatus menegaskan komitmennya untuk menjaga marwah GMNI sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan yang berlandaskan ajaran Bung Karno.
Ia menyampaikan bahwa GMNI tidak boleh kehilangan karakter ideologisnya, tidak boleh tercerabut dari akar perjuangan rakyat.
“Marwah organisasi harus dijaga. GMNI adalah organisasi perjuangan, bukan organisasi seremonial. Kita berdiri untuk membela kaum marhaen, untuk memastikan suara rakyat kecil tetap menjadi pusat dari setiap gerak dan sikap politik kita,” ujarnya.
Semangat keberpihakan kepada kaum marhaen menjadi garis tegas yang akan mewarnai kepemimpinan DPD GMNI DKI Jakarta periode 2026–2028.












