Juga pemasangan videotron dan pemutusan hubungan kerja terhadap tenaga kontrak di RS Soewondo.
Bayangkan, rakyat yang sedang hidup susah terhimpit oleh persoalan ekonomi, oleh Sudewo malah mau dibebani dengan pajak bumi dan bangunan yang sedemikian besar, tidak adil dan membebani rakyat.
Lalu bukannya Sudewo yang baru saja menjabat sebagai Bupati itu menurunkan tarif pajaknya, namun malah mau menaikkan tarif pajaknya sebesar 250 %. Ini pejabat isi kepala dan hatinya terbuat dari apa?!
Terus yang membuat rakyat tambah murka lagi, yakni ketika dia sok-sok’an seolah mau menantang rakyat, “jangankan didemo 5 ribu orang, didemo 50 ribu orangpun saya tidak akan gentar dan tidak akan membatalkan kebijakan kenaikan tarif PBB !”. Katanya.
Maka jangan heran Pati kemudian membara, lebih dari 100 ribuan massa turun ke jalan dan menuntut Bupati Pati, Sudewo mundur dari jabatannya.
Aksi dimulai sejak 10–13 Agustus 2025, dipimpin oleh Aliansi Masyarakat Pati Bersatu, dengan jumlah massa antara 85.000–100.000 orang—menjadi unjuk rasa terbesar dalam sejarah Pati.
Unjuk rasa berlangsung di Alun-Alun Kota Pati dan Pendopo Kabupaten Pati.
Massa sempat membangun posko dengan ribuan kardus air mineral dan mengumpulkan donasi dari berbagai daerah untuk mendukung aksi.















