Oleh: Laurensius Bagus –Mahasiswa universitas Cokroaminoto Yogyakarta dan Aktivis Sosial
Demokrasi di Indonesia kini sedang berjalan dengan kaki pincang.
Ia masih hidup, tapi kehilangan arah. Yang semula diimpikan sebagai sistem pemerintahan berbasis kesadaran dan akal sehat, kini berubah menjadi arena gaduh yang dikuasai oleh nafsu, emosi, dan kepentingan jangka pendek.
Kebebasan yang dulu diperjuangkan dengan darah kini dikelola tanpa kesadaran, tanpa tanggung jawab, dan tanpa arah moral.
Jika reformasi dimaksudkan untuk melahirkan warga negara yang kritis, partisipatif, dan berakal sehat, maka hasilnya hari ini justru paradoks.
Kita memang punya kebebasan bicara, tetapi kehilangan kemampuan berpikir.
Kita punya ruang publik yang luas, tetapi miskin kedalaman nalar.
Demokrasi berubah menjadi ritual tahunan—dari pemilu ke pemilu—tanpa makna yang sungguh-sungguh melekat pada kehidupan sosial.
Lihatlah bagaimana politik dijalankan hari ini.
Demokrasi yang seharusnya menjadi ruang kontestasi gagasan justru dikerdilkan menjadi pertarungan pencitraan.
Debat publik berubah menjadi panggung sandiwara, tempat kandidat lebih sibuk memainkan emosi ketimbang menyampaikan program rasional. Politik kehilangan idealisme, rakyat kehilangan arah, dan negara kehilangan moral.














