Kita sibuk membangun mekanisme pemilu, tapi melupakan substansi kesejahteraan. Demokrasi berhenti di bilik suara, padahal mestinya berlanjut di meja makan rakyat.
Di sinilah titik krisis paling serius: ketika kebebasan tidak disertai tanggung jawab, ia berubah menjadi kebebasan yang destruktif.
Ketika kebebasan kehilangan orientasi moral, ia akan melahirkan kesenjangan yang lebih dalam—antara mereka yang tahu cara memanfaatkan sistem dan mereka yang hanya menjadi penontonnya.
Sistem demokrasi tidak rusak karena rakyatnya keras kepala, melainkan karena elitenya abai dan intelektualnya diam. Para elit politik sibuk mengukur elektabilitas, bukan kualitas moral.
Sementara sebagian akademisi dan pemikir publik larut dalam kenyamanan diskusi teoretis tanpa turun tangan membangun kesadaran publik. Akibatnya, demokrasi berjalan otomatis—tanpa kendali, tanpa arah.
Kita sedang menyaksikan generasi yang bebas tapi tidak berpikir, kritis tapi tidak tahu arah, dan aktif tapi mudah tersulut. Inilah akibat dari kebebasan yang tidak disertai kesadaran.
Demokrasi tanpa disiplin berpikir hanya akan melahirkan massa tanpa logika.
Dan ketika massa kehilangan logika, demokrasi berubah menjadi kerumunan yang bisa digiring ke mana saja oleh siapa pun yang pandai memainkan narasi.















