Maka, yang kita butuhkan hari ini bukan sekadar menjaga kebebasan, melainkan menumbuhkan kesadaran. Demokrasi harus kembali ditopang oleh pendidikan moral dan literasi politik yang kuat. Tanpa itu, kebebasan hanya akan menjadi topeng bagi kekacauan.
Kita memerlukan reformasi kesadaran, bukan hanya reformasi sistem. Demokrasi bukan sekadar soal siapa yang berkuasa, tapi bagaimana rakyat berpikir.
Ia bukan alat untuk memuaskan ego mayoritas, melainkan mekanisme untuk menjaga rasionalitas publik.
Dan selama kita masih melihat anak-anak berjalan jauh menuju sekolah, sementara elite politik saling berebut kekuasaan dengan narasi kosong, maka demokrasi Indonesia masih belum sampai ke tujuannya.
Ia masih tersesat di tengah jalan, kehilangan kompas moralnya.
Kita boleh bangga dengan kebebasan, tapi kebebasan tanpa kesadaran hanyalah bentuk lain dari kebodohan kolektif.
Demokrasi yang kehilangan arah bukan karena sistemnya cacat, melainkan karena manusianya berhenti berpikir.














