Menurut Dadan, Indonesia berkomitmen memastikan setiap tahapan pengembangan PLTN dilaksanakan dengan prinsip keselamatan tertinggi, tata kelola yang transparan, serta kesiapan SDM yang matang.
“Nuklir menawarkan solusi energi yang stabil, rendah emisi, dan mampu menjadi penopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dengan kemajuan teknologi seperti SMR, pengembangan nuklir kini semakin adaptif dan relevan bagi negara berkembang,” ujar Dadan.
Ia mengungkapkan bahwa lima konsumen energi terbesar di kawasan Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan Vietnam, yang menyumbang hampir 89 persen permintaan energi regional, tengah aktif mengeksplorasi opsi nuklir serta memperkuat kolaborasi melalui Jaringan Sub-Sektor Kerja Sama Energi Nuklir (NEC-SSN).
Langkah tersebut sejalan dengan implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN), yang menempatkan energi nuklir sebagai bagian dari strategi jangka panjang menjaga ketahanan energi sekaligus mendukung target pertumbuhan ekonomi 8 persen pada tahun 2029.
Berdasarkan proyeksi pemerintah, kontribusi energi nuklir dalam bauran energi primer nasional ditargetkan mencapai 11,7-12,1% pada 2060, dengan kapasitas terpasang 35-42 Gigawatt (GW).














