Sebagai tahap awal, Indonesia menargetkan PLTN pertama beroperasi secara komersial pada 2032 dengan kapasitas awal 250 Megawatt (MW).
Target tersebut telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034.
Selain mendukung target dekarbonisasi dengan proyeksi kapasitas total 45 GW pada tahun 2060, energi nuklir dipilih karena efisiensi penggunaan lahan serta biaya operasional jangka panjang yang relatif rendah.
Dengan memadukan pengalaman nasional dan keunggulan teknologi mitra internasional, Indonesia optimistis dapat mewujudkan sistem ketenagalistrikan yang tangguh, berkelanjutan, dan berdaya saing global.
Kuasa Usaha Kedutaan Besar Amerika Serikat, Peter M. Haymond, menyampaikan bahwa bersama Jepang, Amerika Serikat merasa terhormat menjadi mitra tepercaya Indonesia yang telah lama menjalin kerja sama dalam mengembangkan energi nuklir yang aman dan bertanggung jawab.
Teknologi Amerika Serikat mendukung upaya Indonesia untuk membangun masa depan energi yang aman dan tangguh.
Sementara itu, Kuasa Usaha Kedutaan Besar Jepang, Mitsuru Myochin, menyampaikan bahwa dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC), Jepang berkomitmen mendukung transisi energi di Indonesia.














