Banyak kejadian ekonomi dan politik global yang berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia, seperti naiknya suku bunga AS, Brexit, menangnya pemimpin populis/nasionalis di beberapa negara, krisis keuangan Argentina dan Turki, maupun perang dagang AS-Tiongkok.
Denni menjelaskan bahwa dampak perang dagang AS-Tiongkok akan melalui tiga jalur, yakni perdagangan, kepercayaan, dan finansial. Dampak negatif terbesar dirasakan Tiongkok, disusul AS sendiri.
“Industri manufaktur Tiongkok kontraksi, sedangkan Amerika ekspansi. Namun secara keseluruhan worse off. Bagi dunia, dampaknya perdagangan global menurun dan harga komoditas menurun,” jelasnya.
Meskipun Tiongkok adalah mitra dagang nomor satu Indonesia baik untuk ekspor maupun impor, namun dampak perang dagang pada perdagangan justru positif karena trade diversion.
Dampak negatif—dan lebih besar—justru datang dari turunnya kepercayaan dan aliran modal. Statistik menunjukkan Tiongkok adalah sumber PMA dan utang luar negeri nomor tiga terbesar bagi Indonesia—setelah Singapura dan Jepang.
Meski demikian, ekonomi Indonesia mampu tumbuh stabil di atas 5%. Pengangguran, kemiskinan, ketimpangan, dan inflasi terus menurun. Posisi fiskal juga makin sehat.














