Bahkan pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2025, target penjualan emas sudah dipastikan tidak tercapai, atau hanya 33 ribu ton alias 50% dari target 67 ribu ton.
“Longsor ini menyebabkan kami berhenti produksi di tambang bawah tanah, kami fokus pada pencarian ke 7 orang karyawan kami yang terperangkap, yang menyebabkan kami berhenti produksi itu hampir 50 hari. Pada 28 Oktober, baru kemudian atas diskusi dengan Kementerian ESDM, untuk mengoperasikan kembali tambang bawah tanah,” kata Tony dalam RDP bersama Komisi VI DPR RI, Senin (24/11/2025).
Dikatakan Tony, hingga akhir 2025 ini diproyeksikan produksi emas dari tambang Grasberg masih berada di angka 80 persen dari kapasitas produksi.
Masih diperlukan upaya pembersihan dan pemulihan infrastruktur terdampak longsoran. Progres pembersihan dan pemulihan infrastruktur tersebut akan berlangsung hingga kuartal II 2026 mendatang, sebelum tambang akhirnya Grasberg kembali beroperasi 100%.
“Selanjutnya rencana kerja untuk pengoperasian grasberg ini di bulan November dan Desember melakukan pembersihan, kemudian persiapan infrastruktur, karena pada saat longsoran terjadi banyak infrastruktur yang juga rusak, dan memerlukan waktu sebelum kami memulai operasional,” imbuhnya.***













