Ada yang lebih ekstrim menilai bahwa “Dewan Kolonel” ini berpotensi menjadi kekuatan pembangkan yang sedang berproses mencari bentuk, membuat gimick seolah-olah mereka sebagai kader pejuang tetapi sesungguhnya mereka adalah pecundang yang memecah belah sesama kader.
Lahirnya “Dewan Kolonel, melahirkan “Dewan Kopral”, nanti akan lahir juga “Dewan Jenderal” dstnya. untuk apa dan apakah Partai kekurangan Organ bagi kadernya untuk menjadi alat perjuangan selain induknya bernama PDI Perjuangan.
Padahal PDI Perjuangan menyiapkan Organ-Organ begitu banyak bagi kader-kader Partai yang berkehendak baik, agar para kader mengaktualisasikan profesionalisme dan potensinya melalui program-program Partai sesuai dengan Visi-Misi Partai, demi mewujudkan tujuan Negara, bukan untuk meperkaya diri pribadi secara mendadak.
TERLALU KREATIF UNTUK CARI MUKA
Pernyataan Ketua DPP PDI Perjuangan Komarudin Watubun, bahwa pembentukan Dewan Kolonel telah menyalahi AD dan ART, di luar AD-ART Partai, terlalu kreatif malah untuk cari muka, sebagai pernyataan yang sangat tepat pada saat yang tepat dan pada sasaran yang tepat pula.
Sebagai Partai terbesar, PDI Perjuangan sudah memiliki kader Partai berlapis-lapis ada dimana-mana.
Partai sudah menata sedemikian rupa Organ-Organnya, tidak saja untuk kepentingan Partai/Kader Partai (kaderisasi kepemimpinan), akan tetapi lebih dari pada itu adalah demi Partai mewujudkan tujuan bernegara.













