Oleh: RD. Leo Mali
Pada pagi yang tenang, 21 April 2025, pukul 07.35 waktu Roma, lonceng-lonceng Vatikan berdentang dalam hening yang menggema ke seluruh penjuru dunia.
Kabar duka datang: Kardinal Joseph Kevin Farrell, Camerlengo Takhta Suci, mengumumkan, “Il Vescovo di Roma è tornato alla casa del Padre.”
Uskup Roma, Paus Fransiskus, telah kembali ke rumah Bapa.
Sejenak dunia berhenti, dan hati saya—seorang imam kecil yang pernah mengenyam pengalaman studi di Roma—terdiam, terangkat dalam doa yang perlahan berubah menjadi kenangan.
Selama berada di Roma, saya pernah bertemu beliau dua kali dalam audiensi Natal, pada Desember 2018 dan 2019.
Namun, bukan pertemuan-pertemuan itu yang terpatri paling kuat dalam hati saya meski banyak hal yang bisa diceritakan.
Namun hal yang ingin saya tulis di sini adalah justru sebuah pertemuan yang tak pernah terjadi.
Anehnya, justru peristiwa itulah yang paling mendalam, membentuk ikatan batin yang lebih kuat, lebih spiritual.
Kisah ini bermula dari satu devosi yang sederhana namun penuh makna: “Maria yang Mengurai Simpul Kehidupan” — Madonna che scioglie i nodi.
Devosi ini dikenal Paus Fransiskus, saat itu masih seorang Pastor Bergoglio, ketika menjalani studi di Jerman tahun 1986.













