“Kalau salah satu mengakuisisi yang lain, jelas kalah Mitratel. Ambil contoh, kalau TIBG gabung sama perusahaan lainya, maka Mitratel tak lagi jadi yang terbesar,” ujarnya.
Menurut Deddy, banyak sekali Pekerjaan Rumah (PR) Mitratel yang harus dikerjakan ke depan.
“Jadi saya minta tolong dijelaskan roadmapnya seperti apa, setelah mendapat dana besar dari IPO.”
Dikatakan Deddy, DPR menunggu langkah selanjutnya bahwa IPO ini benar benar membawa dampak positif, tidak hanya pada PT.Mitratel tapi juga kepada PT.Telkom.
“Supaya menjadi player yang tidak hanya disegani di dalam negeri tapi juga di luar negeri,” tuturnya.
Sementara itu, Direktur Utama Telkom Indonesia Ririek Adriansyah mengungkapkan saat ini perusahaan tengah menantikan pernyataan efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bisa didapatkan pada 12 November 2021.
Sehingga menargetkan penawaran umum pada 16-18 November 2021.
“Kemudian 19 November akan ada alokasi final, terakhir proses ini akan ditutup secara resmi masuk kepada listing [tercatat] di bursa menggunakan kode saham MTEL. Ini kita harapkan dapat dilakukan 22 November tahun ini,” katanya dalam rapat dengan Komisi VI DPR.
Lebih jauh Ririek menjelaskan saham MTEL ditawarkan dengan harga Rp 775-Rp 975/saham dengan jumlah yang ditawarkan sebanyak-banyak 25.540.000.000 saham atau setara dengan 29,85%. ***













