JAKARTA-Motor pertumbuhan ekonomi dunia mulai dipegang oleh negara-negara maju, terutama Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa menyusul perurunan pertumbuhan ekonomi di negara-negara emerging market seperti Indonesia dan China. Konstelasi ini mengalami perubahan jika dibanding dengan kondisi beberapa tahun belakangan, dimana Indonesia dan China yang menjadi motor pertumbuhan.
Hal ini disebutkan mantan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Halim Alamsyah di acara seminar bertema Tantangan dan Peluang Investasi di Pasar Modal pada Era Turbulensi Ekonomi, di Jakarta, Kamis (5/11).
“Saat ini pertumbuhan ekonomi dunia akan diodorong oleh negara maju. Tidak lagi seperti sebelumnya. Untuk itu dampaknya, tentu saja kita harus memperhatikan komposisi permintaan negara maju tersebut, seperti komoditas apa yang diminta, itu persiapan dari sisi kita,” ujar Halim.
Meski begitu, menurut Ketua Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Jakarta ini, dengan potensi Indonesia yang besar Indonesia tetap punya daya saing untuk memenuhi permintaan yang naik itu. “Kita itu selama ini, dipenuhi oleh ekspor komoditas yang tinggi. Makanya mudah-mudahan kita tetap berdaya saing tinggi, di tengah kurs yang kompetitif dan inflasi yang terkendali. Hanya basis industri kita yang perlu dikembangkan,” lanjutnya.














