“Rupiah semakin tertekan karena defisit neraca transaksi berjalan sudah mencapai 3% dari PDB di Triwulan-II kemarin, karena tingginya kebutuhan impor minyak dan impor industry, serta diperparah dengan impor-impor produk pertanian. Sementara secara fiskal kita terus menumpuk utang untuk menutup defisit APBN, yang pembayaran bunganya kepada investor asing terus menyedot devisa kita.” Ujar Aleg asal Jabar ini.
“Nilai Rupiah yang terus turun sangat berpengaruh terhadap pelaku ekonomi nasional, bukan hanya bagi sektor swasta tetapi juga pemerintah. Cicilan utang akan melonjak sehingga akan membebani perusahaan. Biasanya, biaya tersebut dialihkan ke konsumen, sehingga berpengaruh terhadap daya beli. Pemerintah pun akan membutuhkan lukuiditas lebih besar untuk cicilan bunga utang. Sementara dengan kebijakan pengetatan suku bunga dan pembatasan impor, tentu akan mengurangi output perekonomian dan konsekuensinya target pertumbuhan 5,4 persen di 2018 akan sulit dicapai,” tutup Ecky.














