Dia melanjutkan, pertumbuhan kredit yang disalurkan kepada sektor Industri pengolahan untuk jenis penggunaan KMK dan KI masing- masing tumbuh melambat dari 2,7% (yoy) dan 11,2% (yoy) pada Juni 2016 menjadi 2,3% (yoy) dan 9,7% (yoy) pada Juli 2016.
Selain itu, penyaluran kredit konstruksi untuk jenis KMK dan investasi juga tumbuh melambat menjadi sebesar 16,8% (yoy) dan 15,4% (yoy) pada Juli 2016, lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 18,2% (yoy) dan 18,1% (yoy). “Pertumbuhan kredit yang masih terbatas juga terjadi pada kredit yang disalurkan bank umum untuk sektor UMKM,” urainya.
Posisi kredit UMKM yang disalurkan bank umum pada Juli 2016 tercatat sebesar Rp765,1 triliun atau tumbuh sebesar 8,0% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 9,0% (yoy).
Berdasarkan skala usahanya, pertumbuhan kredit untuk skala usaha mikro dan menengah tumbuh melambat dari 16,1% (yoy) dan 2,8% (yoy) menjadi 14,4% (yoy) dan 1,6% (yoy) pada Juli 2016. Sementara itu, kredit UMKM untuk skala usaha kecil tumbuh stabil sebesar 14,3% (yoy) pada Juli 2016.
Sejalan dengan pertumbuhan kredit UMKM, pertumbuhan kredit pada sektor properti juga mengalami perlambatan. Posisi kredit properti pada Juli 2016 tercatat sebesar Rp663,1 triliun atau tumbuh sebesar 12,1% (yoy), lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 13,5% (yoy). Perlambatan tersebut terjadi pada kredit KPR dan KPA, konstruksi, dan real estate yang masing-masing tumbuh dari 8,0% (yoy), 17,9% (yoy), dan 25,1% (yoy) menjadi 7,4% (yoy), 15,9% (yoy), dan 21,5% (yoy) pada Juli 2016.












