Selama ini, pesantren memanfaatkan tanah milik yayasan. Pesantren juga kadang tidak memiliki perpustakaan sendiri, tapi numpang perpustakaan milik kiai.
Tapi anehnya, dengan keterbatasan yang ada, banyak alumni pesantren yang menjadi alumni di kampus terbaik di negeri ini.
“Kami dapat laporan, di ITB dan UGM, alumninya ada yang hafal Al-quran dan menjadi sarjana fisika. Mereka adalah lulusan pesantren,” ungkap Nasaruddin.
Dia yakin jika para santri difasilitasi dengan baik, diberikan sarana prasarana Pendidikan yang memadai, maka pesantren akan semakin maju dan berkembang.
Dia pun mencontohkan MAN Insan Cendekia Serpong yang merupakan sekolah paling unggul di Indonesia.
Padahal, kata Nasaruddin, anggaran belanjanya dibanding sekolah unggulan lainnya.
Nasaruddin pun mengajak para kiai dan pengasuh pesantren untuk terus meningkatkan kualitas Pendidikan pesantren, sehingga mampu melahirkan para insan kamil. Yaitu, manusia istimewa yang menguasai ilmu agama, sains, dan juga memiliki spiritualitasnya yang tinggi.
Seperti para ulama yang lahir di abad pertengahan, di antaranya Jabir bin Hayyan, Ibnu Rusyd, Al-Biruni, Al-Khawarizmi, Ibnu Sina, dan ulama lainnya.
Mereka adalah para insan kamil yang menjadi panutan bagi umat Islam.















