Ari juga mengatakan, dalam waktu dekat pihaknya akan memfasilitasi semua tempat penimbunan sementara (TPS) di lingkungan Pelabuhan Priok agar menggunakan auto gate sistem dan e-payment dalam sistem pembayaran.
Kepala KPU Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok Wijayanta, mengatakan Bea dan Cukai akan terus melakukan percepatan layanan di pelabuhan, bahkan Bea dan Cukai Tanjung Priok menargetkan dwelling time di Pelabuhan Priok, pada akhir Desember tahun ini bisa mencapai 3,7 hari.
Dia mengatakan, pada September 2014 dwelling time di Priok bisa ditargetkan mencapai 4,7 hari, dari saat ini (Agustus) mencapai 5,7 hari, Sedangkan tahun lalu dwelling time di Pelabuhan Priok mencapai lebih dari 8 hari.
Wijayanta mengatakan, sampai dengan Agustus 2014 realisasi penerimaan KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok sebanyak Rp.9,26 triliun atau hanya tercapai 51,26% dari target yang ditetapkan Rp 18,13 triliun.
Sementara itu, Ketua Angkutan Khusus Pelabuhan Organda Provinsi DKI Jakarta Gemilang Tarigan mengeluhkan amburadulnya infrastruktur jalan raya dari dan ke pelabuhan Priok. “Didalam pelabuhan Priok trailler kami masih sering antre rata-rata 4 jam, di luar pelabuhan juga jalanan macet,” ujarnya.
Gemilang juga mengeluhkan, layanan 24 jam di depo penumpukan peti kemas hinga kini belum beroperasi 24 jam. “Tolong dong pemerintah awasi itu operasional depo supaya operasi 24 jam. Kami sering dirugikan karena ketika sudah sore hari trailler kami tidak bisa masuk menyimpan peti kemas empty di depo,”tegas Gemilang.(AM)














